Ibu... Kasihmu Membahana!

Label:

     Ibu, kita semua pasti memiliki seorang Ibu,  baik yang masih dapat kita kecup tangannya ataupun yang sudah tiada. Ibu yang nan jauh di sana ataupun yang kita mintai izin setiap harinya.
Mari kita renungkan penjelasan dari manusia paling mulia:
Baginda Muhammad Saw.

     Abu Hurairah radhiyallahu`anhu , menuturkan:
Seorang laki-laki berkata,
“Wahai Rasul Allah, siapakah yang lebih berhak aku berbakti kepadanya dengan baik?”
Rasulullah berkata, “Ibumu.”
Dia berkata, “Lalu siapa lagi?”
“Ibumu,” kata Rasulullah.
Dia berkata, “Kemudian siapa?”
Rasulullah menjawab, “Ibumu.”
Dia berkata, “Lantas siapa lagi?”
Rasulullah Saw. menjawab, “Ayahmu”
(Hr. Bukhari dan Muslim).

     Ada pelajaran besar dari hadits ini. Seorang ibu memiliki keutamaan untuk kita taati dan kita limpahi kebajikan, tiga kali lebih besar daripada seorang bapak. Tidak ada yang lebih utama untuk kita penuhi panggilannya, kita dengar nasihatnya dan kita limpahi perbuatan baik di dunia ini kecuali ibu.

     Berbakti kepada  ibu termasuk amal yang utama setelah pilar penegaknya agama ini, yakni shalat.
     Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu`anhu, berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah shalallahu `alaihi wa sallam, ‘Amal apa yang paling dicintai Allah? Beliau bersabda, ‘Shalat pada waktunya.’ Aku berkata, ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab, ‘berbakti kepada ibu bapak.’”
(HR. Bukhari & Muslim).

     Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.
(QS. Al-Israa': 23-24)   

     Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk berbakti pada keduanya; Ibu, Bapak, dengan berbuat baik kepada mereka. Allah menggandengkan perintah berbuat baik pada kedua orang tua dengan perintah bertauhid. Hal ini menandakan betapa pentingnya berbuat baik pada keduanya. Karena tauhid adalah pokok utama agama ini yang terpenting. Sesuatu yang digandengkan dengan perintah bertauhid tentu adalah sesuatu yang penting.

     Syaikh Abdul muhsin Al-Qosim berkata, “Ibumu yang selama sembilan bulan mengandungmu dalam keadaan lemah, dan semakin bertambah kelemahannya, dengan kesakitan yang selalu dialaminya, semakin engkau tumbuh maka semakin terasa berat yang dirasakannya dan semakin lemah tubuhnya. Kemudian tatkala akan melahirkanmu ia mempertaruhkan nyawanya dengan sakit yang luar biasa, ia melihat kematian dihadapannya namun ia tetap tegar demi engkau. Tatkala engkau lahir dan berada di sisinya maka hilanglah semua rasa sakit itu, ia memandangmu dengan penuh kasih sayang, ia meletakkan segala harapannya kepadamu. Kemudian ia bersegera sibuk mengurusmu siang dan malam dengan sebaik-baiknya di pangkuannya, makananmu adalah susunya, rumahmu adalah pangkuannya, kendaraanmu adalah kedua tangannya. Ia rela untuk lapar demi mengenyangkanmu, ia rela untuk tidak tidur demi menidurkanmu, ia mendahulukan kesenanganmu di atas kesenangannya. Ia sangat sayang kepadamu, sangat mengasihimu.”

     ”Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”(Al-Ahqaaf:15)

     ’Ridha Allah ada pada ridha kedua orang tua (Ibu, bapak) dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan kedua orang tua.’
(HR At-Tirmidzi )

     Telah jelas bahwa seorang Ibu memiliki keutamaan luar biasa dan sangat besar jasanya kepada kita. Ialah yang mengandung sang anak di dalam perutnya, sehingga sang anakpun hidup dengan tergantung pada makanan dan kesehatan ibunya selama sembilan bulan lamanya. Dan ketika seorang ibu melahirkan, maka satu kakinya berada di dunia dan satu kaki lainya ada di surga. Pasrah, apakah ia akan dapat melihat sang anak, atau malah terlebih dulu meninggalkan sang buah hati menemui  Allah sang pencipta. Ialah Ibu, yang menjadi jalan lahirnya seorang anak: Yaitu kita.

     Begitu  banyak pengorbanan yang Ia lakukan untuk kita. Mulai dari kita kecil hingga sekarang. Ia mengasihi, memberikan kasih sayang tulus dan ikhlas kepada kita. Ia mengasuh, merawat kita hingga dewasa. Ia mengasah, membentuk  diri kita menjadi anak yang berguna  bagi agama, nusa dan bangsa.


Setiap kali kita bernafas, maka dalam setiap hembusan nafas itu ada kasih-sayang, kemuliaan dan keutamaan ibu yang mengaliri darah dan hidup kita. Tidaklah kita bisa berdiri dengan tegak, bernafas dengan baik dan memiliki jiwa yang kokoh, kecuali karena tulusnya cinta ibu kita. Kalaupun terkadang harus ada airmata yang jatuh saat mengasuh kita di waktu kecil, itu bukan karena ia tidak ikhlas mengasuh. Tidak. Tetapi airmata itu kadang jatuh justru untuk mempertahankan keikhlasan, agar penatnya berjaga di waktu malam tidak membuatnya merutuki kita dengan keluh kesah panjang. 


     Sesungguhnya, satu malam kasih-sayang seorang ibu kepada kita, tak akan pernah sanggup kita tebus dengan hadiah yang paling indah. Sebab, tidaklah mereka berjaga, kecuali dengan murninya kasih sayang, tulusnya cinta dan pada saat yang sama sentuhan jiwa untuk membangkitkan jiwa kita. Andaikata seorang bapak menyayangi anaknya dengan turut berjaga semalaman atau bahkan lebih dari itu, niscaya tak akan sanggup menyamai satu malam saja kasih-sayang seorang ibu yang dengan tulus mendidik kita.
Ia telah mengorbankan jiwa, raga, harta, waktu, dan lainnya demi kita. Maka, Sudah sepatutnya kita menempatkan mereka pada kedudukan yang mulia.



     Seberapa jauh kita harus berbuat baik kepadanya? Maka jawabnya adalah: Sejauh yang kita sanggup!

Oleh: Eri Muriyanto

|

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sponsors : Best Themes | New WP Themes | Best Blogger Themes
Copyright © 2013. FARISKA - All Rights Reserved
Template Design by Shihara | Published by New Blog Themes
Powered by Blogger